SELAMAT DATANG DI MARIA NORA MAHARJANINGRUM 'BLOG ..:::.. EMAILME:MARIANORAMAHARJANINGRUM@GMAIL.COM Maria Nora Maharjaningrum'Blog: Loper Pengantar Cinta

Loper Pengantar Cinta

Pagi yang cerah. Tidak berkabut, tidak pula berawan. Segera saja kuhirup dalam-dalam udara segar pagi ini. Reggy, anjing kami, sudah melakukan ritual rutin tiap pagi, memungut koran yang tergeletak di halaman dan menyerahkannya pada sang tuan rumah. "Good Dog!" pikirku.

Sejenak kulihat sekeliling kompleks perumahan dari jendela kamar. Kusunggingkan senyum pada tetangga yang tanpa sengaja melewati rumahku atau sekadar berlari-lari kecil di jalanan kompleks. Tapi istimewanya, pagi ini aku merasa ketiban durian runtuh.

Ryo, cowok yang kutaksir sejak saat kami masih sama-sama di bangku SMP, berjalan pelan melewati rumahku. Ryo yang tidak lain dan tidak bukan adalah tetangga satu kompleks menoleh dan tersenyum padaku. Tapi bodohnya, aku hanya melongo memandanginya! Dia terus berjalan seraya membetulkan tas ranselnya.

Oh, My God! Hampir saja aku lupa, what time is it? Hari ini kan nggak ada libur! Segera kuambil handuk dan berlari menuju kamar mandi. Selang 5 menit....10 menit... 15 menit… baru aku siap dengan semuanya.

Layar HP-ku menunjukkan pukul 06.30 pagi. Gawat! Jam pertama ada ulangan matematika! Kusambar roti di meja makan dan segera menjalankan ritual cipika-cipiki pada papa dan mama. Unfortunately, bus sekolah sudah tak tampak. Aku berlari secepatnya dan membayangkan diriku seekor cheetah sangatlah tidak mungkin.

"Koran pagi ini ada berita apa, Ris?" Winter membuyarkan konsentrasiku. Tanganku berhenti mengerjakan soal matematika yang ada di depanku. "Nggak tahu. Aku belum baca," sahutku sekenanya. Kulanjutkan lagi menggerakkan tangan-tangan, menekan tombol kalkulator.

"Kok bisa nggak tahu, sih? Biasanya kan tiap pagi sebelum berangkat sekolah kamu selalu baca. Kamu yang tiap pagi beri tahu aku tentang berita-berita up to date, iya nggak?" Winter mengacaukan pikiranku lagi. Kutatap wajahnya lekat-lekat. Awalnya, kupasang tampang marah, tapi sedetik kemudian kutunjukkan senyum manisku.

"Lho, Ris? Ditanyain kok malah senyum-senyum? Emang ada apa?"
"Ryo," jawabku singkat.
"Ryo? Kenapa? Memangnya dia masuk koran? Gara-gara apa?" Winter memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenernya nggak ada kaitannya dengan kejadian pagi ini. "Gara-garanya, dia bikin aku melongo melihat dia pagi-pagi di kompleks perumahan," ujarku.

Aku terdiam sesaat, mencoba mengembalikan memoriku pada pukul 06.00 pagi tadi. Untuk ketiga kalinya, Winter membuyarkan semuanya.

"Oh, kirain kesamber bledek tuh cowok!" seru Winter. Aku tersenyum malu.
"Tapi, kebiasaanmu baca koran itu jangan dilupain lagi, ya. Sekarang, itu bukan kebiasaan kamu tiap pagi, kan? Yah, pagi ini jadi ketinggalan informasi deh!"

Winter memang sahabat terbaik yang pernah kutemui. Nggak pernah lelah mengingatkanku untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi.

"Iya, aku nyesel banget. Padahal kan loper koran udah capek-capek nganterin. Dan itu semua juga buat memberi kita informasi yang penting. Betul nggak?" tanyaku. Winter menggosokkan penghapus karetnya di lembar jawaban.

"One hundred for you!" Dia tersenyum sambil mencubit pipi kananku. "Apalagi kalau loper koran kamu bapak-bapak yang udah tua banget. Wah, nyiksa tuh namanya!"

"Iya ya, kok aku nggak pernah tahu ya siapa loper koran langgananku selama ini. Padahal, bayangin aja, aku udah langganan koran selama tiga tahun. Tapi, melihat langsung aja nggak pernah. Kalaupun bangun pagi, aku cuma ambil koran dari Reggy. Kok nggak pernah tebersit dalam pikiranku buat tahu tampang loper koran itu, ya?" tanyaku

"Wuih, udah kurang ajar banget kamu, Ris! Kalo aku yang jadi loper koranmu, bukan Reggy yang kusuruh gigit, tapi kamu aja! Biar kamu tahu sekalian tampangku kayak gimana!"

Aku dan Winter terkikik. Tanpa sadar, mata seluruh murid di kelas langsung memandang kami berdua. Tak terkecuali Bu Sheryn.
***
Sore itu, giliranku yang memberi makan Reggy. Tapi tiba-tiba, nggak ada angin dan nggak ada hujan, Ryo lewat di depan rumahku lagi. Namun, kali ini bukan seperti yang sebelum-sebelumnya. Dia nggak menyapaku. Mukanya ditekuk dan nggak sedikit pun menoleh atau tersenyum ke arahku. Dia berjalan gontai seakan tak berdaya. Tiba-tiba Reggy menggonggong keras dan melompat di depanku, kemudian berlari ke arah Ryo. Reggy mengikutinya seraya menggonggong pelan.

"Guk..Guk."
Ryo menghentikan langkah. Terdiam sejenak menatap Reggy. Seketika itu juga, gonggongan Reggy berhenti. Dipegangnya belt yang terikat di leher Reggy, lantas berjalan memasuki pagar rumah dan menuju ke arahku.

Aku bergumam heran, "Ada apa ini?"
Aku tetap berada di tempatku, di depan kandang Reggy yang mungil. Saat mereka berada tepat di depanku, aku melongo melihat Ryo tersenyum dan membelai punggung Reggy. Mereka kelihatan akrab sekali.

"Thanks," ujarku singkat.
"Dia lucu juga ya, Ris," kata Ryo, lalu memandangku dengan seksama. "Kamu sekarang beda, ya. Tambah manis."

"Mm, Ryo… Sebenernya aku…" Belum sempat kuteruskan, dia sudah beranjak pergi.
"Bye!" ujar Ryo sambil melambaikan tangan.
Hatiku mencelos gak karuan.
***
Setelah perbincangan dengan Winter kemarin, aku semakin penasaran dengan loper koran langgananku. So, pukul 04.30 aku udah bangun, stand by di kosen jendela kamarku, dan mengamati area sekitar kompleks. Loper koran itu belum datang juga. Selama 15 menit kutunggu, tapi nggak datang juga. Aku tetap bersabar menunggunya. Sepuluh detik berlalu. Sayang, hasratku untuk buang air benar-benar nggak bisa ditoleransi. Ah, nggak apa-apa, sambil menunggu, pikirku.

Lima menit setelah itu, aku keluar. Kuambil posisi awal dan menanti. Tapi, apa yang kudapati sungguh jauh dari harapan. Di bawah sana, Reggy sudah menggigit koran itu dan berlari masuk rumah. Sedangkan loper koran itu entah ke mana.
***
Hari ini, kuputuskan untuk bertanya pada mama tentang identitas si loper koran langganan. Kutemui mama di dapur. Mama terlihat sedang asyik bersenandung sambil memotong tipis-tipis wortel di genggamannya. Belum sempat kuutarakan, mama sudah ngomong duluan.

"Paris, setelah ini tolong antarkan kue puding yang ada di dalam kulkas buat Tante Unik, ya," kata mama.

"Tante Unik? Tante Unik siapa, Ma?"
"Tante Unik ibunya Ryo itu, lho. Tapi, kalau kamu nanti ketemu Ryo, kasihkan aja ke dia. Jangan lupa, bilang dari mama," kata mama lagi.

Hatiku berdenting mendengar nama Ryo.
"Ryo? Emangnya ada acara apa, Ma? Kok kita bagi-bagi puding?" Kubuka kulkas dan kuambil puding cokelat yang kelihatan lezat banget.

"Kemarin waktu arisan, Tante Unik minta resepnya. Nah sekarang, mama kasih dulu contoh jadinya kayak gimana. Lagian, Ryo kan teman baik kamu, Nak. Apalagi, dia udah baik banget sama kita," ujar mama.

"Iya, bener banget, Ma. Ryo itu emang baik banget sama Paris. Udah anaknya sopan, nurut sama orang tua, cakep pula. He he he," kataku. "Oya, Mama tahu nggak. Reggy juga suka lho sama Ryo!" seruku sambil tersenyum.

"Iya Ris, kalo Reggy sih udah jadi temennya Ryo tiap pagi," jawab mama.
"Tiap pagi? Maksud Mama?"
"Lho, kamu nggak tahu? Dia kan loper koran langganan kita. Iya, kan?"

Dhuuueengg! Kepalaku serasa dijatuhi besi berat. Bintang-bintang langsung mengitari kepalaku. Semua terlihat gelap. Puding yang kubawa juga jatuh. Tubuhku lemas. Terakhir kali, cuma teriakan mama yang kudengar.

Oleh: Bulan Puspita Sari

0 komentar:

Posting Komentar

  • description
  • description
  • description
  • description
  • description

Video Gallery