
Gerimis yang semalam turun tiba-tiba bersama datangnya embusan angin dingin dan kelambu kabut tipis membuat suasana pagi terlihat muram. Rea mengintip dari balik jendela kamarnya yang mengembun.
Lengang, tak tampak anak-anak kecil yang biasanya bermain atau berlarian di bawah sana. Sesekali, cuma mobil atau motor yang kebetulan melintas yang membuat suasana sedikit hidup. Tapi, itu pun tak lama. Gaduhnya suara air yang menerpa atap-atap rumah segera menenggelamkan kembali.
Hujan kian merantai Rea. Dia seharusnya telah duduk di kafetaria dekat sekolahnya dengan softdrink di meja sekaligus menepati janji bertemu Evelyn. Rea ingin menyampaikan sesuatu yang sudah setahun ini mengganggu pikirannya. Berharap Evelyn bisa memberikan jawaban yang sekaligus akan menuntaskan segalanya.
Langkah jarum jam menapak di angka sembilan lebih lima belas. Gumpalan-gumpalan hitam semakin pekat menyelimuti langit, disertai gemuruh dan kilatan cahaya. Itu membuat siapa saja enggan melangkah ke luar di pagi celaka ini. Rea pun sama, tak beranjak dari tempatnya semula sambil terus berharap cemas.
Lelaki itu memiliki ketakutan tersendiri terhadap hujan. Fobia telah menjangkitinya sekitar 10 tahun lalu saat dia menjenguk Ervan, teman masa kecil sepermainannya. Saat itu, Ervan terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Ini setelah berlama-lama bermain di tengah hujan deras. Kegelisahan yang tak pernah Rea ungkapkan itu menghantui. Serta selalu membuatnya cemas saat mendung mulai berarak menutup lazuardi langit.
Menit demi menit melangkah semakin jauh dari janji yang semula disepakati. Evelyn tentu telah lama menunggu. Perempuan itu terkenal on-time bila menyangkut waktu. Sepintas Rea berniat menghubungi Evelyn, lalu mengatakan beragam alasan ketidakhadirannya. Namun, sebelum merogoh ponsel dalam saku celana, buru-buru dia buang pemikiran itu. Rea bisa berbohong, tapi tidak pada Evelyn.
Pandangan Rea beralih ke sudut kamar. Di sudut antara dinding dan daun pintu tampak sebuah payung tegak bersandar. Setitik asa menggapai Evelyn muncul ke permukaan. Dengan sigap, dia meraih dan menggenggam erat gagang payung itu. Rea meyakinkan hatinya untuk tidak takut menghadapi hujan walau jauh dalam lubuknya dia sendiri tak yakin dengan itu.
Rea mengembangkan payungnya lebar-lebar. Keringat dingin seketika meleleh menggenangi wajah. Beradu dengan irama jantung yang berderap kencang saat dari balik payung yang terkembang itu menganga sebuah sobekan lebar. Rea dapat melihat sepotong gambar itu, poster Johan Cruyff-nya yang tergantung di dinding.
Payung yang terkembang itu ditutupnya kembali. Lantas diletakkan begitu saja di lantai. Perlahan, Rea menyandarkan dirinya di dinding, membenamkan wajah di antara lipatan kedua pahanya. Serta membiarkan hujan terus menundanya.
Sejam berlalu dan hujan belum juga puas mempermainkan Rea. Gemercik hujan masih berisik dan terdengar seperti suara sumbang yang menertawakannya. Rea berusaha menutup telinga. Namun, hatinya tak kuasa membendung gema suara itu. Kerunyaman sedikit buyar saat ponsel memanggilnya beberapa detik kemudian. Sebuah pesan dari seorang yang familier telah bersarang dalam inbox-nya.
Rea terperanjat. Mulutnya diam terbekap, tubuhnya tak henti gemetar, dan untuk sedetik dia merasa jantungnya tak berdenyut ketika serangkai kata: Aku pergi, jangan temui aku! menyeruak dalam layar.
Rea tak dapat berpikir jernih setelahnya. Dia semakin kalut saat sekelebat wajah masam Evelyn langsung melintas di pelupuk matanya. Rea ingin maju, namun tetes-tetes air yang terlihat seperti jarum-jarum tajam itu kembali memukulnya mundur. Kini, dia hanya mondar-mandir tanpa tujuan dalam ruangan yang tak begitu luas itu.
Setitik sinar menghampiri dan mengingatkannya kembali akan apa yang kemarin dibawa pulang Leona. Sebuah mantel yang sedikit dapat melindungi dan membawanya kepada Evelyn. Tanpa berpikir panjang, Rea langsung berlari menuju kamar Leona dan berharap mantel hujan kakaknya itu terlipat rapi di lemari.
"Kalau masuk ketuk pintu dulu!" bentak Leona, terkejut dengan kehadiran Rea yang tiba-tiba.
Rea tak menggubris. Matanya liar mencari lemari. Ketika matanya tertambat pada sebuah benda kayu setinggi satu setengah meter dengan sebuah pintu itu, dia semakin tak tertahan. Hampir saja Rea berhasil membukanya andai Leona tak lekas menghadang.
"Eh, kamu nggak sopan banget, Re! Mau cari apa di lemari Kakak, hah?" "Mantel. Pinjam mantelnya ya, Kak," kata Rea panik.
"Mantel apa?"
"Mantel hujan, yang kemarin Kakak beli. Aku pinjam sebentar ya, sebentar aja". Tangan Rea tak henti berusaha membuka lemari itu. Leona habis kesabarannya. Dia hempaskan Rea sebelum akhirnya mengusirnya.
"Nggak ada! Mantelnya dibawa Papa. Punya Papa hilang, pinjam punya Kakak! Udah? Puas? Sekarang keluar! Ganggu Kakak aja!" Leona membanting pintu, lalu menguncinya rapat.
Kening Rea mengernyit. Dia menyeret langkah gontainya kembali ke kamar. Kepalanya terasa berat dengan serangkaian hal yang berkecamuk. Gemercik masih terngiang saat Rea rebahkan dirinya di ranjang.
Andai hujan berhenti. Ah bukan. Andai aku tak punya fobia ini, mungkin aku tak harus menderita.
Rea memandang foto dirinya dan Evelyn yang terbingkai cantik. Dia menutup matanya, membayangkan kembali saat-saat ketika bersama Evelyn dalam foto itu. Saat mereka berdansa dalam sebuah pensi sekolah. Saat Rea pertama kali menyadari betapa cantik mata dan senyum Evelyn, serta merasakan getaran aneh dalam hatinya hanya dengan membayangkan saja. Perasaan yang terus mengganggu dan akan diungkapkan, andai dia menepati janji.
Rea memandang dirinya dalam cermin. Diamatinya setiap detail bagian dirinya. Dia bukan lagi anak kecil, kurus, pendek, dan berkulit kecokelatan karena sering bermain bola di terik hari. Masa hampir mengubah keseluruhan dirinya, kecuali rasa takutnya yang tak ikut terseret arus perubahan.
Rea tersengat. Dia menajamkan pandangan pada bayangan di hadapannya. Berkali-kali Rea berkata kepada orang dalam cermin itu: Kamulah yang menciptakan rasa takut ini, kamu sendirilah yang dapat menguasai dan mengalahkannya
Saat sedikit demi sedikit keberanian mulai bercokol, Rea membulatkan tekad melawan rasa takutnya. Dia berlari keluar. Dentam-dentam langkahnya terdengar menuruni tangga dan berakhir di balik pintu masuk. Bau hujan yang segar dan tampias air yang gemar membasahi ujung-ujung sepatu langsung menyapa Rea.
Derasnya hujaman air, siulan angin yang menghempaskan dedaunan, pun bayangan Ervan kecil yang sekarat terus menggoda Rea untuk kembali ke dalam. Namun, ketakutannya akan kehilangan cinta Eveyln membuat semua itu serasa tak berarti.
Rea nekat berlari dan terus berlari tanpa peduli lagi betapa takut dan dingin dirinya. Pelarian di tengah hujan yang kemudian mengantarnya ke depan pintu pagar rumah Evelyn. Rea diam berdiri, berharap Evelyn melihatnya.
Gema azan Duhur telah terdengar di segenap penjuru. Namun, dari balik pintu itu masih nihil hadirnya seseorang yang peduli pada Rea. Dia tetap bertahan walau gemetar melanda tubuhnya yang tiada henti dihujam.
Tak lama, seorang perempuan dengan rambut hitam panjangnya yang basah dan wangi tubuh yang akrab di hidung menghampiri Rea dari belakang. Mengajaknya berlindung di bawah payung.
"Kenapa diam di sini? Nanti sakit. Aku kan sudah bilang, jangan temui aku. Mendadak aku hares nganter Nagita les piano, terus ke airport jemput sepupu yang pulang dan London. Di tengah jalan, mobilku mogok, mampir lagi ke bengkel. Jadi aku nggak sempat ke kafetaria," kata Evelyn dengan suara agak keras karena terhalang hujan. "Tuh," sambungnya sambil menunjuk sedan hitam yang tak jauh di belakangnya.
Rea heran, tak mengerti. "Bukannya kamu marah aku yang nggak datang, terus kamu nggak mau ketemu aku lagi?"
Giliran Evelyn memasang mimik heran. Untuk beberapa saat keduanya saling diam tak mengerti. Rea yang pertama menyadari kesalahpahaman ini langsung tertawa sendiri. Sementara, Evelyn tak sedetik pun mengalihkan pandangan herannya.
"Kamu baik-baik saja, Re?"
Mulut Rea berhenti tertawa. Matanya memandang lekat wajah cantik di hadapannya. Sebuah kalimat yang mewakili seluruh perasaan akhirnya dikatakan Rea di sela riuhnya suara hujan. Evelyn terkejut, lalu tersenyum seraya menundukkan wajahnya yang merah merona.
Penulis adalah alumni SMAN 10 Malang tahun 2006
Oleh: Bogi Yuniar Rachman






1 komentar:
hehe, cerpenku pas SMA,
terima kasih ... : )
Posting Komentar