[ Minggu, 23 November 2008 ]
''Swing voter berpeluang untuk tidak memanfaatkan hak pilihnya. Ini harus diantisipasi,'' kata Sri Nuryanti, anggota KPU, di Jakarta kemarin (22/11). Survei LSI beberapa waktu lalu juga menyatakan, keterikatan pemilih di Indonesia terhadap parpol cukup minim. Hanya 15 persen pemilih yang mengaku loyal terhadap parpol yang ada saat ini.
Menurut Nuryanti, karakteristik swing voter biasanya terjadi pada pemilih pemula. Para pemilih yang berusia 17-21 tahun itu cenderung belum terikat parpol. Ironisnya, pemilih pemula itu jarang tersentuh sosialisasi pemilu. ''Kenyataannya, sejumlah pemilih pemula cenderung acuh tak acuh atas pemilu,'' ujarnya.
Selain pemilih pemula, swing voter muncul juga disebabkan ada kekecewaan loyalist voter (pemilih loyal) kepada parpol yang dia bela. Kemungkinannya, swing voter semacam itu akan memilih parpol yang menjadi lawan politik parpol mereka sebelumnya. ''Namun, bisa jadi mereka tidak akan memilih karena tidak cocok dengan parpol yang lain,'' lanjut dia.
''Sosialisasi kami tidak hanya kepada swing voter, tapi juga ke seluruh karakter pemilih,'' katanya. (bay)






0 komentar:
Posting Komentar