Mudah lupa merupakan gejala yang paling sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari warga lanjut usia (lansia). Tapi, mudah lupa tak jarang ditemukan pada usia setengah baya, bahkan umur belia.
Mudah lupa (forgetfulness) memang bisa dianggap gejala wajar atau alamiah. Tapi, kita tetap harus waspada, sebab mudah lupa (terutama pada usia belia) bisa saja merupakan stadium awal dari demensia (dementia) atau kepikunan, yang merupakan gangguan otak akibat penyakit atau kondisi lainnya. Bahkan, bukan mustahil, itu tanda-tanda awal penyakit (kepikunan) Alzheimer, yang kini mulai "ditakuti".
Itu sebabnya, Anda sangat dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter, bila mulai dihinggapi penyakit kelupaan. Makin dini diagnosis ditegakkan, makin besar peluang keberhasilan tindakan, khususnya dalam konteks menekan progresivitas penyakit tersebut. "Gangguan memori berupa mudah lupa tidak boleh diremehkan, dan perlu dievaluasi lanjut," tegas Prof Dr Sidiarto Kusumoputro dari Bagian Neurologi FKUI/RSCM di sela-sela seminar "Permasalahan Mudah Lupa Sampai Kepikunan (Alzheimer)" di Jakarta, baru-baru ini.
Ada sejumlah kriteria mudah lupa, yakni: Mudah lupa nama benda, nama orang dan sebagainya. Juga gangguan dalam mengingat kembali (recall), gangguan dalam mengambil kembali informasi yang telah tersimpan dalam memori (retrieval). Gangguan mengenali kembali sesuatu apabila diberi isyarat atau cue (recognition), dan lebih sering menjabarkan fungsi atau bentuk sesuatu daripada menyebutkan namanya.
Bertambahnya usia membawa akibat menurunnya kemampuan memori secara wajar (fisiologis) dan dianggap tidak ada kaitannya dengan kepikunan alzheimer. Berbagai penelitian menemukan angka kejadian mudah lupa sebesar 35 persen pada usia di atas 65 tahun. Ada pula studi yang menemukan angka kejadian 39 persen pada usia 50-59 tahun, dan 85 persen pada usia di atas 80 tahun.
Namun, gangguan memori juga bisa merupakan kondisi abnormal (patologis), yang sukar diketahui awal perjalanan penyakitnya, sehingga, diagnosis dan penanggulangannya baru dapat dibuat dan diberikan pada saat penderita sudah mengidap kepikunan, kendati masih dalam stadium ringan. Gangguan memori demikian merupakan gejala utama kepikunan alzheimer.
Beberapa tahun terakhir ini, para pakar (Mayo Clinic, 1999) telah menemukan kondisi baru yang juga menunjukkan gangguan memori. Letaknya di antara forgetfulness yang fisiologis dan demensia alzheimer yang patologis. Jadi, ada fase transisi (transitional state) yang disebut Mild Cognitive Impairment (MCI). Fenomena MCI ini dipergunakan sebagai "peringatan" bahwa penyandangnya berisiko tinggi mengidap demensia.
Mudah Lupa
Dengan bertambahnya usia (apalagi pada lansia), kemunduran daya ingat secara wajar lazim terjadi karena proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan strategi memori yang tepat, kesulitan memusatkan perhatian dan konsentrasi, mengabaikan hal yang tidak perlu (distraktor), memerlukan lebih banyak waktu untuk belajar sesuatu yang baru, memerlukan lebih banyak isyarat (cue) untuk mengingat kembali apa yang pernah diingat.
Selanjutnya, penurunan daya ingat memori deklaratif semantik (kemampuan mengingat pengetahuan dan pengalaman). Terakhir, penurunan daya ingat memori prosedural (kemampuan mengingat keterampilan motorik yang pernah dipelajari, seperti naik sepeda, main alat musik, komputer, dan lain-lain). Bagi lansia, strategi "LUPA" (latihan, ulangan, perhatian, asosiasi) bisa dilakukan dalam penanganannya, yakni latihan mengingat, mengulang, memperhatikan dan mengasosiasikan.
MCI
Dalam majalah Archives of Neurology edisi Maret 1999, sekelompok peneliti Mayo Clinic membahas masalah gangguan memori, yang berkaitan dengan penuaan otak normal dan penyakit alzheimer. Ditemukan, 76 penderita mengalami gangguan memori di bawah usia normal, tapi tidak menderita demensia alzheimer. Kelompok "kasus baru" inilah yang kemudian disebut MCI.
Menurut Ronald C Pietersen, pakar saraf dan ketua kelompok peneliti Mayo Clinic, dengan menggunakan kriteria klinik yang dikembangkan dari penelitian tersebut, pihaknya kini bisa membedakan pasien MCI dari mereka yang sehat dan dari penderita alzheimer ringan. Penelitian itu juga berhasil menemukan, penderita MCI berisiko lebih tinggi untuk mengalami kepikunan alzheimer, dengan tingkat risiko 10-15 persen per tahun.
Dengan adanya kemampuan mengidentifikasi MCI, penelitian kini dapat difokuskan pada upaya mencari pengobatan yang bisa memperlambat progresivitas alzheimer. Di AS, sebanyak 4 juta orang dilaporkan menderita alzheimer dan 2,7 juta MCI.
Data Mayo Clinic 1999 menyebutkan, MCI potensial menjadi alzheimer dengan laju 2 persen per tahun, lebih rendah daripada laju 1-2 persen pada orang normal. Sekitar 50 persen kasus MCI berkembang menjadi alzheimer dalam kurun waktu 3 tahun, dan 80 persen untuk kurun waktu 8 tahun. Umumnya, kata Sidiarto, diagnosis MCI dibuat bila pada seseorang ditemukan kriteria: Ada gangguan memori, fungsi memori abnormal untuk usia dan pendidikan, aktivitas sehari-hari normal, fungsi kognisi umum normal dan tidak ada demensia.
"Penderita MCI terutama mengalami gangguan memori jangka pendek (recent memory). Mereka masih mampu berfungsi normal dalam kehidupan sehari-hari, mampu memperoleh kemampuan kognisi seperti berpikir, pemahaman dan membuat keputusan," kata Sidiarto.
Penyakit Alzheimer
Sedangkan alzheimer didefinisikan sebagai gangguan intelektual dan kemampuan kognitif, yang progresif serta cukup mengganggu performan sosial dan pekerjaan. Gejala yang muncul adalah akibat proses degeneratif yang menyebabkan kematian masif sel-sel neuron (otak) pada korteks serebral (kulit otak).
Kematian sel-sel neuron pada proses penyakit tersebut, baru menimbulkan gejala-gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun. Relatif lambat. Awalnya, muncul gejala mudah lupa, di mana penderita tidak mampu menyebut kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda, dan akhirnya tidak mampu menggunakan barang-barang, yang termudah sekalipun, seperti memakai pensil.
Pada demensia ringan, penderita masih dapat hidup mandiri, dengan gangguan minimal pada aktivitas sosial dan pekerjaan. Pada demensia sedang, kemampuan tersebut masih ada, tetapi kemandirian dalam hidup terganggu, misalnya tidak peduli akan pakaian, mengabaikan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Pada demensia berat, sudah diperlukan supervisi.
Ada sejumlah tanda klasik yang diidap oleh kebanyakan penderita pada stadium awal, dan dapat digunakan sebagai petunjuk kebutuhan esesmen penyakit alzheimer. Yakni, tanda awal berupa short-term memory loss, kemunduran fungsi memori. Learning and retaining new information, kesulitan untuk belajar hal baru, mengulang-ulang sesuatu, serta lupa pembicaraan dan janji. Reasoning and abstaktive thought, kesulitan membaca kalender, memahami lelucon atau menentukan waktu; kesukaran menghitung buku cek, memasak atau tugas yang membutuhkan langkah berurutan.
Judment and planning, kesulitan mengantisipasi atau mempertimbangkan akibat suatu peristiwa atau tindakan, tidak mampu memecahkan masalah sehari-hari, seperti bagaimana harus bertindak apabila kompor menyala, kesulitan mengikuti arah atau menemukan jalan kembali. Dalam berbicara, sangat sulit menemukan kata yang benar dalam mengungkapkan pikiran, bahkan dalam mengikuti konversasi.
"Gejala-gejala tersebut tidak dengan sendirinya menetapkan diagnosis alzheimer. Masih diperlukan riwayat keluarga, pemeriksaan fisik, fungsional, esesmen status mental, pemeriksaan penunjang, penetapan kriteria diagnostik, dan evaluasi diagnostik," jelas Sidiarto.
Kendati belum banyak dikenal di Indonesia, jenis gangguan ini secara kasuistik telah ditemukan di negara ini. Alzheimer sangat ditakuti di AS dan Eropa, karena merupakan penyebab kematian nomor empat setelah kanker, penyakit jantung dan stroke. Selain itu, demensia alzheimer menunjukkan gejala gangguan perilaku yang berat dan berdampak buruk bagi penderita dan lingkungannya.
Para pakar di Indonesia kini mulai menyadari perlunya dibentuk badan khusus, yang mengurusi kepikunan (alzheimer) dan masalah lain yang terkait, seiring dengan bertambahnya jumlah lansia dan adanya faktor-faktor pencetus lain. Asosiasi ini diharapkan bersifat multidisiplin, karena masalah kepikunan adalah masalah yang kompleks. Banyak negara yang sudah memiliki wadah sejenis, termasuk di Singapura.
Digelarnya seminar alzheimer itu sendiri dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan dokter tentang masalah kepikunan. Masalahnya kemudian, terutama jika wadah sudah terbentuk, adalah bagaimana kebutuhan dana dan tenaga dapat dihimpun dengan baik, untuk mengatasi masalah biaya untuk mengatasi kasus-kasus gangguan memori yang muncul. Ini, tentu saja, terutama bagi mereka yang ekonomi lemah. Biayanya memang relatif besar. Untuk demensia Alzheimer misalnya, dibutuhkan obat-obatan yang harus diminum setiap hari, yang harganya jauh di atas kemampuan golongan ekonomi lemah. Belum lagi untuk perawatan atau asuhan (caregiving) pasien.
0 komentar:
Posting Komentar