SELAMAT DATANG DI MARIA NORA MAHARJANINGRUM 'BLOG ..:::.. EMAILME:MARIANORAMAHARJANINGRUM@GMAIL.COM Maria Nora Maharjaningrum'Blog: Ginandjar Kartasasmita, Tokoh Senior Golkar Bicara tentang Golkar

Ginandjar Kartasasmita, Tokoh Senior Golkar Bicara tentang Golkar

Elite Mementingkan Keselamatan Masing-Masing

Tokoh senior Partai Golkar yang juga ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ginandjar Kartasasmita mengaku terpukul atas hasil sejumlah survei yang menunjukkan Golkar ''terjun bebas''. Apa komentarnya?

--------

Bagaimana Anda menilai hasil survei yang menyebut Partai Golkar sedang ''terjun bebas''?

Ini memang anomali. Seharusnya kalau pemerintah dianggap gagal, PDIP yang menang. Sedangkan Partai Demokrat dan Partai Golkar kalah. Nah, sekarang ini kan pemerintah dianggap sukses. Tapi, mengapa hanya Demokrat yang di atas dengan 23 persen? Bahkan, Golkar masih kalah dari PDIP yang memperoleh 17,1 persen.

Tapi, banyak hasil survei yang kini diragukan validitasnya?

Hasil beberapa survei yang dilakukan sejumlah lembaga lain juga cenderung sama (dengan LSI, Red). Tidak mungkin semua direkayasa. Jujur saja, sebagai orang yang termasuk dituakan di Partai Golkar dan pernah menjadi anggota Dewan Pembina Golkar 1983-1998 serta wakil ketua dewan penasihat, saya sangat terpukul atas gambaran itu.

Banyak analis dan petinggi Golkar yang berargumentasi, itu realitas yang muncul karena Golkar belum beriklan secara masif. Setidaknya dibanding Partai Demokrat dan PDIP. Tanggapan Anda?

Saya kok ragu-ragu akar persoalannya adalah pencitraan melalui itu. Apa kalau Golkar masif beriklan seperti yang dimulai hari ini akan mengubah persepsi publik? Apakah bisa dalam tiga bulan running mengejar dari titik 13 persen itu? Saya tidak yakin iklan akan menyelesaikan persoalan. Dengan beriklan, yang diuntungkan juga tetap Demokrat. Bila ikut mengklaim sukses pemerintahan, tanpa ada nilai tambah, silakan ditebak, publik akan memilih mana, parpol presidennya atau parpol Wapresnya?

Anda, tampaknya, pesimistis?

Saya tidak pesimistis, tapi khawatir, sedih, dan terpukul. Bagaimanapun, saya ikut besar bersama Golkar, meski berangkat dari TNI. Kalau terpuruknya sampai seperti ini, saya yakin akar persoalannya lebih prinsipiil dari sekadar teknis beriklan. Golkar itu kan punya core atau pemilih setia, sekitar 20 persen pemilih yang tidak mungkin terombang-ambing. Semestinya, core Golkar itu tidak terpengaruh, baik ada iklan maupun tidak. Kok sekarang seolah-olah core itu tidak ada.

Jadi, apa persoalan prinsipiil tersebut?

Faktor kepemimpinan yang saya rasakan sudah tidak lagi intensif, komprehensif, dan terasa sampai ke lapis bawah. Lebih parah, ada kesan Golkar terpecah-pecah. Sering terjadi kader-kader inti Golkar mengkritik Golkar habis-habisan. Publik akan menilai, kalau orang Golkar sendiri mengkritik begitu keras, bagaimana mereka bisa percaya kepada Golkar? Bukan hanya itu, arah sikap partai kadang juga tidak jelas.

Contoh konkretnya?

Sikap partai terkait dengan UU Pemilu, misalnya. Ketika UU tersebut dibahas, Partai Golkar mempertahankan penetapan caleg terpilih mengacu BPP (bilangan pembagi pemilih). Ujug-ujug ikut suara terbanyak. Perubahan-perubahan kebijakan seperti itu membingungkan di bawah. Katanya, dengan menyetujui suara terbanyak, suaranya akan naik. Buktinya, malah turun jadi 13 persen.

Apa lagi persoalan lainnya?

Tidak ada parpol lain yang capresnya sebanyak kami. Itu menunjukkan leadership dan disiplin partai sudah lembek. Kesan di masyarakat, elite Golkar kini lebih memperhatikan survival-nya masing-masing, entah dengan menjadi capres, anggota DPR lagi, atau Wapres lagi.

Tapi, aksi capres-capresan tidak akan terjadi bila konvensi dibuka?

Konvensi itu memecah belah. Hasil konvensi Partai Golkar juga langsung kalah dalam pilpres 2004 putaran pertama. Tapi, bolehlah itu tetap dilakukan. Saya setuju saja. Asalkan setelah pemilu legislatif. (priyo handoko)

0 komentar:

Posting Komentar

  • description
  • description
  • description
  • description
  • description

Video Gallery